MANUSIA BERBURU

pada saat berburu ini terjadi di Paleolitikum dan Mesolitikum.

NEOLITIKUM

Manusia Purba Mulai Mengenal Cocok Tanam

KERAJAAN KUNO INDONESIA

Kerajaan Kuno Indonesia berawal dari KUTAI dan berakhir di MAJAPAHIT.

KERAJAAN INDONESIA MADYA

Masa Dimana Islam Mencapai kejayaan di INDONESIA.

Kamis, 13 Maret 2014

SRIWIJAYA

Di Kerajaan Sriwijaya dihuni pemukiman yang padat, dan telah mengenal berbagai bidang keahlian. Ada kelompok masyarakat yang ahli di bidang kerajinan Tembikar, manik-manik, pengecoran logam, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu ahli bangunan. Adanya tiang kayu yang jumlahnya  relatif banyak dan relatif luas, akhirnya dapat memberi petunjuk bahwa pesisir Sumatra Selatan tidak pernah mengalami perubahan garis pantai yang signifikan sejak masa sebelum hingga masa sejarah

Sabtu, 01 Maret 2014

PERJALANAN DINASTI GUPTA DI ANAK BENUA (Dari Chandragupta sampai Purugupta)

Sekitar tahun 1800—600 SM, setelah kota-kota besar ditinggalkan, masyarakat pertanian tinggal di permukiman-permukiman yang lebih kecil di Lembah Indus dan Gangga mereka membaur dengan orang-orang yang datang dari Asia Barat. Para ahli cerita menggubah Weda, puisi, dan himne yang kemudian menajadi dasar agama Hindu. Gupta merupakan salah satu dinasti di daerah India Selatan  yang didirikan oleh raja Chandragupta I pada tahun 319 M.yang telah berhasil menyatukan seluruh india selatan menjadi satu dinasti Gupta. Antara Candragupta I dengan Candragupta Maurya dari kerajaan Magadha tepatnya pada masa dinasti Maurya tidaklah sama. Agama yang dianut oleh dinastiGupta adalah agama Hindu, sedang agama yang dianut oleh Candragupta Maurya adalah agama Buddha.
Diketahui dari Kerajaan Gupta ini pernah dipimpin oleh beberapa orang raja. Raja Candragupta (320 M—330 M), Samudragupta Sarvarajaccheta (335M—376 M), Candragupta II yang bergelar Vikramaditya (376 M—415 M), Kumaragupta (415 M—455 M), Skandagupta (455M—467 M), dan Purugupta yang merupakan raja terakhir dari Dinasti Gupta. Pada masa kepemimpinan Candragupta II kerajaan ini mencapai masa keemasan.
            Gupta merupakan dinasti yang besar di India, namun demikian tidak semua orang mengetahui tentang sejarah dari dinasti ini. Termasuk di dalamnya para mahasiswa, inilah yang mendorong kelompok kami untuk menuliskan tentang sejarah dari Dinasti Gupta. 
2.1 Masa Awal Berdirinya Dinasti Gupta
Setelah kerajaan Kushana runtuh, India utara seakan menjadi daerah yang mati, namun sejak Candragupta I muncul mendirikan Dinasti Gupta di sana, India Utara kembali menjadi daerah yang besar. Hal ini disebabkan Candragupta I melakukan hal kontoversial dengan meniru Chandragupta Maurya yang ingin menandingi dan mengusir Iskandar Zulkarnain diperbatasan barat negaranya, Magadha, sekitar abad IV SM. Kemudian Chandragupta mendirikan Dinasti Gupta yang berkurasa di India sekitar 200 tahun.
Mengenai asal-usul dari Candragupta I ini masih diragukan dan masih kurang jelas, apakah dia keturunan dari Candragupta Maurya atau bukan. “Apakah pendiri wangsa Gupta ini memang keturunan langsung wagsa Maurya pantas diragukan, dan memang ia mengikuti jalan lain menuju kekuasaannya.” (Schulberg, 1983:93). Jika Candragupta Maurya menjadi pemimpin karena sebelumnya mengadakan ekspansi-ekspansi ke berbagai wilayah, dengan mengadakan konsolidasi wilayah kekuasaannya, maka Chandragupta mengawali kepemimpinannya lewat jalan perkawinan politik dengan putri raja dari suku Licchavi.
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa untuk mendirikan dinasti yang baru ini, Chandragupta yang pada saat itu dipercayai sebagai seorang ksatria Arya dan diduga sebagai penguasa di dekat Pataliputra mengambil langkah politiknya dengan mempersunting seorang putri raja dari Suku Licchavi yang terdapat di Vaisali yang bernama Kumala Devi. Setidaknya suku Licchavi tersebut pernah berkuasa di India bagian utara, akan tetapi suku ini tenggelam karena munculnya Dinasti Maurya yang pernah dibangun oleh Chandragupta Maurya.
Chandragupta menetapkan Pataliputra sebagai ibu kota negara dan sekaligus sebagai tempat pusat pemerintahan pada waktu itu. Kemudian tanggal 26 Februari 320 M ditetapkan sebagai awal masa pemerintahannya sebagai raja dengan tandai


dikeluarkannya mata uang baru. Tahun itu pula yang kemudian di anggap sebagai awal tarikh gupta. Pada masa awal kekuasaan Candragupta I ini meluputi sebagian besar wilayah India Utara yang membentang dari Magadha sampai Allahabad.
Mengenai kepemimpinan Chandragupta ini tidak begitu banyak diketahui. Karena keterbatasan suber sejarah yang menyebutkan tentang Chandragupta. Kebanyakan sumber menyebutkan Samaragupta dan Chandragupta II, sehingga dapat diketahui begitu menonjolnya kedua tokoh ini.

2.2 Raja-Raja pada Dinasti Gupta

            Dalam sejarahnya, Dinasti Gupta pernah dipimpin oleh beberapa raja, mulai dari saat didirikan oleh Candragupta sampai saat-saat keruntuhan pada pemerintahan dinasti Gupta. Menurut Suwarno (2012: 55-56) raja-raja yang pernah memimpin tampo pemerintahan pada Dinasti Gupta adalah sebagai berikut:
1.      Chandragupta I, memerintah 320—330 M.
2.      Samudragupta , memerintah 335—376 M.
3.      Chandragupta II Vikramaditya, memerintah 376—415 M.
4.      Kumaragupta, memerintah 415—455 M 
5.      Skandagupta, 455—467 M.
6.      Purugupta, memerintah 467—473 M.
7.      Kumaragupta II, memerintah 473—476 M.
8.      Budhagupta, memerintah 476—495 M.
9.      Narasimhagupta.
10.  Kumaragupta III.
11.  Vishnugupta.
12.  Vainyagupta.
13.  Bhanugupta sebagai raja terakhir.
Suwarno (2012:56) mengatakan, “dari para raja Dinasti Gupta itu, yang paling menonjol adalah Samudragupta dan Chandragupta II, sehingga kedua raja ini yang paling banyak dijelaskan”.

2.2.1    Samudragupta, Sarvarajaccheta (335—376 M)
            Samudragupta merupakan salah satu raja dalam Dinasti Gupta. Dia menggantikan ayahnya, Candragupta I yang telah meninggal pada tahun 330 M. Sebagai keturunan suku Licchavi Dauhitra (putra dari putri suku Licchavi), maka dia  berkeinginan untuk melanjutkan ambisi ayahandanya untuk menaklukan kawasan-kawasan yang diinginkannya. Bahkan dia melakukan serangkaian penaklukan tersebut dengan gemilang, dengan prestasi dan keperkasaannya itulah Samudragupta digelari Sarvarajaccheta (pembasmi semua raja).
            Keberhasilan penaklukan yang gemilang ini tidak terlepas dari ambisi dan semangat muda raja demi melanjutkan ambisi ayahandanya. Untuk melaksanakan ambisi ayahnya Samudragupta menitik beratkan rencana kegiatan kenegaraannya yang terkenal dengan digvijaya atau penaklukkan atas Empat Penjuru Angin. Menurut Su’ud (1988: 200) menyatakan “yang dimaksud Empat Penjuru Angin itu tidak saja empat kawasan di sekeliling kerajaan Gupta, namun juga berarti empat kategori musuh yang harus dihadapi, dan harus ditaklukan”. Dapat ditemukan pula dalam tulisan pada tonggak batu Kausambi, yang menggambarkan empat kategori musuh, sebagai berikut:
·         Raja-raja yang berhasil dibunuh dalam ekspedisi penaklukan, kemudian daerahnya disatukan dengan kerajaan Gupta. Yang termasuk kategori ini adalah Raja-raja Hindustan yang bangkit setelah mundurnya kerajaan Kushana.
·         Raja-raja yang dikalahkan, namun daerahnya dikembalikan dan raja berstatus baru, yaitu Raja yang harus membayar upeti. Mereka yang termasuk dalam kategori kedua adalah mereka yang juga disebut raja-raja rimba, yang dijadikan pelayan. Di wilayah selatan yang termasuk kategori ini adalah raja-raja di daerah Orissa, yang terletak di antara  sungai-sungai Mahnadi dan Godavari.
·         Raja-raja di daerah perbatasan yang melarikan diri ketika diserbu, diwajibkan membayar semacam pajak perlindungan. Tetapi kemerdekaan mereka tidak diganggu.
·         Raja-raja yang letaknya jauh yang mengakui kekuasaan Raja dinasti Gupta, dengan mengirimkan duta/utusan. Mereka yang termasuk kategori ini adalah raja-raja dari Kamarupa, Samatata di pertemuan antara sungai-sungai Gangga dan Brahmaputra, serta berbagai suku bangsa Saka, Kushana, Malwa, Gujarat, dan Panjab.
tidak dipungkiri pula, bahwa pengaruh kekuasaan dari Kerajaan Gupta juga dirasakan sampai ke Sri Lanka.
Samudragupta merupakan salah seorang penganut agama Hindu yang taat, dengan setia menjalankan aturan Brahmana ortodoks, misalnya melakukan upacara asvameda sebelum aneksasi/ perluasan wilayah. Minatnya pada kesenian membuat Samudragupta memiliki apresiasi yang tinggi. Bahkan dia dijuluki sebagai Kaviraja (raja penyair). Selain itu, di Allahabad, sebatang pilar batu yang awalnya didirikan oleh Asoka pada abad keempat sebelum masehi diubah untuk mengagungkan Samudragupta. Menurut (Dalal, 2007: 48) menyatakan “pilar ini menceritakan bagaimana dia menaklukkan negeri-negeri lain dan membanggakan bahwa ia mengasihi rakyat miskin dan merupakan penyair yang mahir”. Selain itu menurut Schulberg (1983:93) dalam sebuah prasasti di daerah Allahabad yang munkin sama dengan yang disebutkan oleh Dalal, setidaknya terdapat 12 penguasa yang takluk pada Samudragupta, sebelah utara ada 9 raja yang takluk, sedangkan di daerah barat ia bertempur dengan orang-orang sakha di Ujjain.
Meskipun Samudragupta seorang Hindu ortodoks, dia cukup punya rasa toleransi. Sebagai contoh, dia mengangkat seorang penasihat agama Buddha, bernama Vasubhanda. Bahkan dia membuatkan tempat untuk para pengikut Buddha, seperti di Ajanta sebanyak 29 gua dipahat di karang tebing. Tidak khayal jika masa Raja Samudragupta dianggap sebagai puncak dari kerajaan Gupta, sebab kekuasaannya telah mencakup seluruh India Utara.
Dalam bidang sosial dan ekonomi mengenai Samudragupta ini tidak begitu banyak diketahui, akan tetapi pada saat itu dijelaskan bahwa Raja Samudragupta ini mengeluarkan mata uang emas yang antara lain bergambar sang raja sedang bermain alat musik semacam kecapi. Dari pernyataan ini dapat sedikit disimpulkan bahwa perdagangan pada saat itu sudah terbilang maju dan ramai. Hal ini dapat dibuktikan dengan dikeluarkannya mata uang emas oleh Raja Samudragupta.
Sementara dalam bidang kebudayaan saat pemerintahan Samudragupta ini juga dapat dibilang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Terutama perkembangan dalam bidang sastra dan musik. Hal ini dapat dibuktikan dengan raja selain sebagai penyair (ingat kaviraja), dia juga sebagai pemusik (ingat mata uang emas yang telah dikeluarkan oleh Samudragupta). Selain sastra dan musik, dalam pemerintahan Samudragupta ini juga telah berkembang Drama, yang dapat dibuktikan dengan bangunan gedung-gedung drama yang indah. Selain itu dalam gedung-gedung itu juga terdapat lukisan-lukisan yang indah pula.

2.2.2        Chandragupta II (376—415 M)
Setelah Samudragupta meninggal, putra sulungnya yang bernama Ramagupta didudukkan di atas takhta. Namun karena adanya tekanan dari suku bangsa Sakha di perbatasan barat laut dan juga Ramagupta merupakan seorang pemimpin yang lemah, sehingga tokoh ini sangat disembunyikan dari silsilah Raja-raja Gupta, maka saudaranya yang bernama Chandragupta (putra Samudragupta dengan putri Datta Devi) mengambil alih kekuasaannya, dengan gelar Chandragupta II.
            Gelar Chandragupta II merupakan peringatan atas kejayaan kakeknya yang telah membangun sebuah dinasti. Sebelumnya dia telah melatih diri memimpin masyarakat dengan kedudukan yuvaraja atau bupati pada suatu daerah pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahan ayahnya.
Chandragupta II juga dijuluki sebagai Vikramaditya , yang berarti ‘Matahari Kebenaran’. Su’ud (1988: 202) menyatakan “karena kepribadian maupun penampilannya selama dia memerintah menunjukkan sifat-sifat yang menerangi masyarakat”. Sehingga hal inilah yang membuat dia mendapatkan julukan sebagai Vikramaditya. Selain itu ada yang mengatakan bahwa Vikramaditya (mataharari kegagah beranian) merupakan tanda kehormatan atas karya ketentaraannya, dan dia juga merupakan seorang maharaja yang terbesar diantara maharaja Gupta.
            Tindakan pertama yang dilakukannya sebagai raja ialah memindahkan ibukota dari Pataliputra ke Ayodhya, sebuah kota terpenting didaerah Kosala atau Oudh sekarang. Pemindahan ibukota ini dimaksudkan untuk memperoleh kembali semangat Hinduisme, karena kita ketahui Ayodhya merupakan salah satu kota suci agama Hindu. Seperti nenek moyangnya, Chandragupta ingin tampil menjadi penguasa dunia (world emperor). “Politik perluasan wilayah yang dilakukan oleh Chandragupta II, ditempuh melalui dua cara:
a.       Cara damai, yaitu dengan jalan perkawinan politik (political marriage).
b.      Kekerasan, yaitu penaklukan dengan kekuatan militer”. (Suwarno 2012: 58)
Kerajaan Gupta pada masa pemerintahan Chandragupta II ini mencapai wilayah yang paling luas, bahkan sampai melintasi seluruh India Utara, mulai dari Benggala hingga Laut Arab. Hal ini tidak lepas dari ekspansi-ekspansi yang dilakukan oleh Chandragupta II.
Pada masa Chandragupta II, di bidang kesenian mengalami kemajuan yang pesat, terutama festival keagamaan pada musim semi dan patut dicatat peranan Kalidasa. Selain festival-festival keagamaan juga telah berkembang pesat dibidang literatur (kesusastraan)  dan pengembangan-pengembangan ilmu pengetahuan yang berbahasa sansekerta. Selain itu seorang penulis drama yang sering mempergelarkan drama-dramanya di hadapan raja. Karyanya yang paling terkemuka adalah ‘Sakuntala’.
Nampaknya masa Chandragupta II merupakan masa yang paling makmur bagi dinasti Gupta dan sekaligus merupakan masa keemasan dari Kerajaan Gupta (the golden age). Bahkan pada masa Chandragupta II ini setiap rakyat yang sakit diberikan bantuan untuk berobat kepada tabib, sementara untuk pelaku pelanggaran tidak dikenakan sanksi berat, melaikan hanya dikenakan denda. Untuk para tuan tanah hanya dikenakan pajak yang diambil sebagian kecil hasil panennya saja, bahkan untuk para pemberontak dikasih hukuman potong tangan kanan saja. Sehingga pada saat itu Chandragupta II mendapat julukan sebagai permata utama bagi kerajaan Gupta.

2.3      Runtuhnya Dinasti Gupta
Setelah Chandragupta lengser keprabon karena meninggal dunia pada tahun 415 M, Dinasti Gupta mengalami titik balik dari masa-masa keemasannya. Lembaran suram ini dimulai saat Kerajaan Gupta diduduki oleh Kumaragupta, putra dari Chandragupta II. Pada saat memerintah dia kualahan menghadapi serangan-serangan dari Huna Putih (Ephalit dan ada yang menyebutnya Hun Putih). Akan tetapi Kumaragupta masih bisa menahan serangan serangan tersebut. Akhirnya Kumaragupta memerintah negara hingga tahun 455 M.
Selanjutnya tampo pemerintahan digantikan oleh putra Kumaragupta yang bernama Skandagupta. Dia memerintah selama ± 12 tahun, yakni dari tahun 455 M sampai sekitar tahun 467 M. Lagi untuk sementara Skandagupta masih mampu menghalang serangan-serangan dari  Huna Putih. “Hal ini digambarkan pada tonggak batu di Bihari, yang berbunyi: ‘Sebagaimana Sri Krisna, setelah berhasil membunuh musuh-musuhnya, dia mendekat ke arah ibunya, bernama Devaki’.” (Suwarno, 2012:59). Sehingga untuk sementara Dinasti Gupta masih bisa diselamatkan. Dan atas keberhasilan menahan serangan itu, dia membangaun sebuah candi untuk Wisnu, guna mengenang peristiwa kemenangan itu.
Hingga pada suatu ketika pada saat Dinasti Gupta dipimpin oleh Purugupta, yang memerintah tahun 467-473 M, kerajaan ini masih mendapat serangan besar dari Huna Putih. Pada saat itu Huna Putih berhasil memporak porandakan Dinasti Gupta, mereka menghancurkan istana, kuil-kuil, dan juga patung-patung. Awalnya pemimpin bangsa Huna Putih pada waktu itu adalah Tarotama, dan berhasil menaklukkan Persia pada tahun 484 M, disusul penaklukan kota Punjab pada tahun 510 M. Ternyata penaklukkan ini menjadi tonggak kehancuran kedaulatan Dinasti Gupta. Kemudian pada saat Huna Putih dipimpin oleh Mihiragula dapat melakukan ekspansi besar-besaran terhadap Gupta. “Kerajaan Gupta pun berhasil mereka tklukkan dan diharuskan membayar upeti. Semenjak itu Dinasti Gupta lenyap dari panggung sejarah India utara pada sekitar 600 M.” (Suwarno, 2012:59).

DAFTAR PUSTAKA


Dalal A. 2011. Selidik Nasional Geographic: Arkeolog Menguak Rahasia Masa Lampau India Kuno. Jakarta: PT. Gramedia.
Su’ud A. 1988. Memahami Sejarah Bangsa-bangsa di Asia Selatan (Sejak Masa Purba Sampai Masa Kedatangan Islam). Jakarta: P2LPTK.
Suwarno. 2012. Dinamika Sejarah Asia Selatan. Yogyakarta: Ombak.
Schulberg, L. Tanpa tahun. Abad Besar Manusia (India yang Bersejarah). Terjemahan T.W. Kamil. 1983. Jakarta: Tira Pustaka

oleh

Jumat, 13 Desember 2013

KERAJAAN TARUMANEGARA

1.  Sumber-sumber
  • Dalam Buku “Geographicke Hyphegesis”, ahli ilmu bumi Yunani bernama Claudius Ptolomeus, menyebutkan sebuah kota bernama “Argyre” yang terletak di ujug barat pulau Labadiou.
Labadiouà disesuaiakan dalam bahasa Sansekerta “Yawadwipa, yang berarti pulau Jelaià adalah Pulau Jawa.
Argyreà berarti Perak, dalam literatur lain terjemahan dari merak, yang terletak disebelah barat pulau Jawa.
Ada pendapat lain, bahwa Labadiou tidak mengacu pada pulau Jawa, tetepi Sumatra atau bahkan Kalimantan Barat daya.

NEOLITIKUM

ada dikatakan bahwa neolithikum itu adalah suatu revolusi yang sangat besar dalam peradaban manusia. Perubahan besar ini ditandai dengan berubahnya peradaban penghidupan food-gathering menjadi foodproducing. Pada saat orang sudah mengenal bercocok tanam dan berternak. Pertanian yang mereka selenggarakan mula-mula bersifat primitif dan hanya dilakukan di tanah-tanah kering saja. Pohon-pohon dari beberapa bagian hutan di kelupak kulitnya dan kemudian dibakar. Tanah-tanah yang baru dibuka untuk pertanian semacam itu untuk beberapa kali berturut-turut ditanami dan sesudah itu ditinggalkan.
Orang-orang Indonesia zaman neolithikum membentuk masyarakat-masyarakat dengan pondok-pondok mereka berbentuk persegi siku-siku dan didirikan atas tiang-tiang kayu, dinding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah-indah, Walaupun alat-alat mereka masih dibuat daripada batu, tetapi alat-alat itu dibuat dengan halus, bahkan juga sudah dipoles pada kedua belah mukanya.
A. CARA HIDUP
Cara hidup zaman neolithikum membawa perubahan-perubahan besar, karena pada zaman itu manusia mulai hidup berkelompok kemudian menetap dan tinggal bersama dalam kampung. Berarti pembentukan suatu masyarakat yang memerlukan segala peraturan kerja sama. Pembagian kerja memungkinkan perkembangan berbagai macam dan cara penghidupan di dalam ikatan kerjasama itu. Dapat dikatakan pada zaman neolithikum itu terdapat dasar-dasar pertama untuk penghidupan manusia sebagai manusia, sebagaimana kita dapatkan sekarang.
B. ALAT-ALAT ZAMAN NEOLITHIKUM
Pada zaman neolithikum ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan.
1. Pahat Segi Panjang
Daerah asal kebudayaan pahat segi panjang ini meliputi Tiongkok Tengah dan Selatan, daerah Hindia Belakang sampai ke daerah sungai gangga di India, selanjutnya sebagian besar dari Indonesia, kepulauan Philipina, Formosa, kepulauan Kuril dan Jepang.

2. Kapak Persegi
Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi bangsa Asia ke Indonesia. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium. Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil. Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul/pacul. Sedangkan yang ukuran kecil disebut dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat.
Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api/chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tanda kebesaran. Kapak jenis ini ditemukan di daerahi Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

3. Kapak Lonjong
Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan warnanya kehitam-hitaman. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan ujung lainnya diasah hingga tajam. Untuk itu bentuk keseluruhan permukaan kapak lonjong sudah diasah halus.
Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua.

4. Kapak Bahu
Kapak jenis ini hampir sama seperti kapak persegi, hanya saja di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Sehingga menyerupai bentuk botol yang persegi. Daerah kebudayaan kapak bahu ini meluas dari Jepang, Formosa, Filipina terus ke barat sampai sungai Gangga. Tetapi anehnya batas selatannya adalah bagian tengah Malaysia Barat. Dengan kata lain di sebelah Selatan batas ini tidak ditemukan kapak bahu, jadi neolithikum Indonesia tidak mengenalnya, meskipun juga ada beberapa buah ditemukan yaitu di Minahasa.

5. Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah)
Jenis perhiasan ini banyak di temukan di wilayah jawa terutama gelang-gelang dari batu indah dalam jumlah besar walaupun banyak juga yang belum selesai pembuatannya. Bahan utama untuk membuat benda ini di bor dengan gurdi kayu dan sebagai alat abrasi (pengikis) menggunakan pasir. Selain gelang ditemukan juga alat-alat perhisasan lainnya seperti kalung yang dibuat dari batu indah pula. Untuk kalung ini dipergunakan juga batu-batu yang dicat atau batu-batu akik.

6. Pakaian dari kulit kayu
Pada zaman ini mereka telah dapat membuat pakaiannya dari kulit kayu yang sederhana yang telah di perhalus. Pekerjaan membuat pakaian ini merupakan pekerjaan kaum perempuan. Pekerjaan tersebut disertai pula berbagai larangan atau pantangan yang harus di taati. Sebagai contoh di Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan beberapa tempat lainnya ditemukan alat pemukul kulit kayu. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang zaman neolithikum sudah berpakaian.

7. Tembikar (Periuk belanga)
Bekas-bekas yang pertama ditemukan tentang adanya barang-barang tembikar atau periuk belanga terdapat di lapisan teratas dari bukit-bukit kerang di Sumatra, tetapi yang ditemukan hanya berupa pecahan-pecahan yang sangat kecil. Walaupun bentuknya hanya berupa pecahan-pecahan kecil tetapi sudah dihiasi gambar-gambar. Di Melolo, Sumba banyak ditemukan periuk belanga yang ternyata berisi tulang belulang manusia.

ZAMAN MESOLITIKUM

setelah pleistosen berganti dengan holosen, kebudayaan paleolithikum tidak begitu saja lenyap melainkan mengalami perkembangan selanjutnya. Di Indonesia, kebudayaan paleolithikum itu mendapat pengaruh baru dengan mengalirnya arus kebudayaan baru dari daratan Asia ygna membawa coraknya sendiri. Kebudayaan baru yang timbul itu dinamakan Mesolithikum. Kebudayaan mesolithikum ini banyak ditemukan bekas-bekasnya di Sumatra, Jawa , Kalimantan, Sulawesi dan di Flores. Dari peninggalan-peninggalan tersebut dapat diketahui bahwa jaman itu manusia masih hidup dari berburu dan menangkap ikan (Food-Gathering). Akan tetapi sebagian sudah mempunyai tempat tinggal tetap, sehingga bisa dimungkinkan sudah bercocok tanam walau masih sangat sederhana dan secara kecil-kecilan. Bekas-bekas tempat tinggal mereka ditemukan di pinggir pantai (Kjokkenmoddinger) dan di dalam gua-gua (Abris Sous Roche). Disitulah pula banyak didapatkan bekas-bekas kebudayaannya.
Penelitian di bukit kerang menghasilkan banyak penemuan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Paleolithikum). Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan pebble / kapak Sumatra. Bentuk pebble dapat dikatakan sudah cukup sempurna dan buatannya agak halus. Hal ini membuktikan bahwa alat-alat pada zaman mesolithikum merupakan pengembangan dari alat-alat zaman paleolithikum, dimana cara pembuatannya lebih baik dan lebih halus dari zaman paleolithikum.
A. HASIL KEBUDAYAAN MESOLITHIKUM
1. Kebudayaan Pebble (Pebble Culture)
  1. Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)
Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).

  1. Pebble (kapak genggam Sumatera = Sumateralith)
Tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya menemukan kapak genggam. Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra. Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.

  1. Hachecourt (kapak pendek)
    Selain pebble yang diketemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.

  1. Pipisan
Selain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.
2. Kebudayaan Tulang dari Sampung (Sampung Bone Culture)
Berdasarkan alat-alat kehidupan yang ditemukan di goa lawa di Sampung (daerah Ponorogo – Madiun Jawa Timur) tahun 1928 – 1931, ditemukan alat-alat dari batu seperti ujung panah dan flakes, kapak yang sudah diasah, alat dari tulang, tanduk rusa, dan juga alat-alat dari perunggu dan besi. Oleh para arkeolog bagian terbesar dari alat-alat yang ditemukan itu adalah tulang, sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture.
3. Kebudayaan Flakes (Flakes Culture)
  • Abris Sous Roche (Gua tempat tinggal)
Abris Sous Roche adalah goa-goa yang yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Penyelidikan pertama pada Abris Sous Roche dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di goa Lawa dekat Sampung Ponorogo Jawa Timur. Alat-alat yang ditemukan pada goa tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, kapak yang sudah diasah yang berasal dari zaman Mesolithikum, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.Di antara alat-alat kehidupan yang ditemukan ternyata yang paling banyak adalah alat dari tulang sehingga oleh para arkeolog disebut sebagai Sampung Bone Culture / kebudayaan tulang dari Sampung. Karena goa di Sampung tidak ditemukan Pebble ataupun kapak pendek yang merupakan inti dari kebudayaan Mesolithikum. Selain di Sampung, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur. Penelitian terhadap goa di Besuki dan Bojonegoro ini dilakukan oleh Van Heekeren. Di Sulawesi Selatan juga banyak ditemukan Abris Sous Roche terutama di daerah Lomoncong yaitu goa Leang Patae yang di dalamnya ditemukan flakes, ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Di goa tersebut didiami oleh suku Toala, sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, suku Toala yang sampai sekarang masih ada dianggap sebagai keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan zaman prasejarah. Untuk itu kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala tersebut merupakan kebudayaan Mesolithikum yang berlangsung sekitar tahun 3000 sampai 1000 SM. Selain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Timor dan Rote. Penelitian terhadap goa tersebut dilakukan oleh Alfred Buhler yang di dalamnya ditemukan flakes dan ujung mata panah yang terbuat dari batu indah.
B. KEBUDAYAAN BACSON-HOABINH
Kebudayaan ini ditemukan dalam gua-gua dan dalam bukit-bukit kerang di Indo-China, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu kali, seperti bahewa batu giling. Pada kebudayaan ini perhatian terhadap orang meninggal dikubur di gua dan juga di bukit-bukit kerang. Beberapa mayatnya diposisikan dengan berjongkok dan diberi cat warna merah. Pemberian cat warna merah bertujuan agar dapat mengembalikan hayat kepada mereka yang masih hidup. Di Indonesia, kebudayaan ini ditemukan di bukit-bukit kerang. Hal seperti ini banyak ditemukan dari Medan sampai ke pedalaman Aceh. Bukit-bukit itu telah bergeser sejauh 5 km dari garis pantai menunjukkan bahwa dulu pernah terjadi pengangkatan lapisan-lapisan bumi. Alur masuknya kebudayaan ini sampai ke Sumatera melewati Malaka. Di Indonesia ada dua kebudayaan Bacson-Hoabinh, yakni:
  1. Kebudayaan pebble dan alat-alat dari tulang yang datang ke Indonesia melalui jalur barat.
  2. Kebudayaan flakes yang datang ke Indonesia melalui jalur timur.
Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mesolithikum, maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah teluk Tonkin daerah asal bangsa Papua Melanosoide. Dari hasil penyelidikan tersebut, maka ditemukan pusat pebble dan kapak pendek berasal dari pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Tetapi di daerah tersebut tidak ditemukan flakes, sedangkan di dalam Abris Sous Roche banyak ditemukan flakes bahkan di pulau Luzon (Filipina) juga ditemukan flakes. Ada kemungkinan kebudayaan flakes berasal dari daratan Asia, masuk ke Indonesia melalui Jepang, Formosa dan Filipina.
C. KEBUDAYAAN TOALA
Kebudayaan Toala dan yang serumpun dengan itu disebut juga kebudayaan flake dan blade. Alat-alatnya terbuat dari batu-batu yang menyerupai batu api dari eropa, seperti chalcedon, jaspis, obsidian dan kapur. Perlakuan terhadap orang yang meninggal dikuburkan didalam gua dan bila tulang belulangnya telah mengering akan diberikan kepada keluarganya sebagai kenang-kenangan. Biasanya kaum perempuan akan menjadikan tulang belulang tersebut sebagai kalung. Selain itu, didalam gua terdapat lukisan mengenai perburuan babi dan juga rentangan lima jari yang dilumuri cat merah yang disebut dengan “silhoutte”. Arti warna merah tanda berkabung. Kebudayaan ini ditemukan di Jawa (Bandung, Besuki, dan Tuban), Sumatera (danau Kerinci dan Jambi), Nusa Tenggara di pulau Flores dan Timor.

ZAMAN PALEOLITIKU

zaman batu adalah suatu periode ketika peralatan manusia secara dominan terbuat dari batu walaupun ada pula alat-alat penunjang hidup manusia yang terbuat dari kayu ataupun bambu. Namun alat-alat yang terbuat dari kayu atau tulang tersebut tidak meninggalkan bekas sama sekali. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan tersebut tidak tahan lama. Dalam zaman ini alat-alat yang dihasilkan masih sangat kasar (sederhana) karena hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja. Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang lalu, yaitu selama masa pleistosen (diluvium).

Kamis, 05 Desember 2013

KERAJAAN KUTAI


  • Prasasti ditemukan di Kalimantan Timur (Bukit Berubus, muara kaman) pada tahun 1879 berupa yupa yaitu sebuah prasasti yang dipahat pada tiang batu. Pada mulanya prasasti yang ditemukan ada 4 buah, kemudian ditemukan lagi 3 buah jadi jumlah yupa yang ditemukan menjadi 7. prasasti ini ditulis dengan huruf pallawa dan dalam bahasa sansekerta yang berasal dari abad v masehi. isi dari prassti ini kebanyakan menceritakan kemakmuran dan kebijaksanaan kerajaan kutai.
           adapun prasasti prasasti ini sebagai berikut:
  1. Sang Maharaja Kudungga, yang amat mulia, mempunyai putra mashur, sang Aswawarmman namanya, yang seperti sang Angsuman 'dewa matahari' menumbuhkan keluarga yang amat mulia. Sang Aswawarmman mempunyai tiga putra, seperti api tiga. yang terkemuka dari ketiga putra itu adalah sang Mulawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. untuk peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.
  2. dengarkan oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka, dan sekalian orang baik lain-lainnya tentang kebaikan budi sang Mulawarmman, raja besar yang sangat Mulia. Kebaikan budi ini iala berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah sedekaah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa, dengan sedekah tanah. bergubung dengan semua kebaikan itulah tugu ini didirikan oleh para brahmana.
  3. tugu ini ditulis untuk dua perkara yang telah disedekahkan sang Raja Mulawarmman, yakni segunung minyak, dan lampu serta malai bunga
  4. Sang mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada lpara brahmana yang seperti api, di tanah yang sangat suci Wapakeswara untuk peringatan akan kebaikan budi raja itu, tugu ini telah dibuat oleh para brahmana yang datang di tempat ini
  5. Raja Mulawarmman yang tersohor telah mengalahkan raja-raja di medan perang, dan menjadikan mereka bawahannya seperti yang dilakukan oleh raja yudisthira. di waprakeswara raja Mulawaarmman menghadiahkan 40 ribu, lalu 30 ribu lagi. Raja yang salah tersebut juga memberikan jivadana dan cahaya terang (?) di kotanya. Yupa ini didirikanoleh brahmana yang datang kesini  dari berbagai tempat.
  • temuan arkeologi yang merupakan peninggalan dari kerajaan ini selain yupa dan arca buddha, diantarannya gua-gua di sepanjang sungai jelai, dan lukisan cap tangan di dinding-dinding gua. Serta arca-arca perunggu yang ditemukan di bukit berubus serta bangunan candi yang tertinggal hanya sisa-sisanya saja.

Selasa, 26 November 2013

KAPAK PERSEGI DAN KAPAK LONJONG

 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Zaman prasejarah merupakan zaman sebelum manusia mengenal tulisan. Di Indonesia sendiri, zaman ini diperkirakan berlangsung sejak sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Supaya lebih mudah difahami, sejarawan memperiodisasikan zaman prasejarah ini kedalam lima zaman yaitu zaman paleolitikum (zaman batu tua), zaman mesolitikum (zaman batu menengah), zaman neolitikum (zaman batu muda), dan zaman paleometalik (zaman logam).

Powered by Zainal Abidin